WELCOME TO MY BLOG... :))) BUTUH PERJUANGAN DALAM MENGARUNGI HIDUP, BUAT YANG TERBAIK DALAM HIDUPMU.....

Jumat, 07 September 2012

10 CEO tanpa ijazah sarjana

Menurut Ari Ginandjar dari berdasarkan riset sebuah lembaga bernama Emotional Quotion Inventory (EQI) membuktikan bahwa IQ hanya membawa keberhasilan 6 % saja, dan maksimal cuma 20%. Sisanya, jelas EQ.
Tulisan ini bukan membahas soal IQ dan EQ, jadi, langsung saja berikut 10 orang yang sukses di muka bumi dan tanpa gelar sarjana. Tulisan ini saya kutip dari Detik Finance.
1.     Bill Gates
Bill Gates merupakan salah satu pendiri Microsoft, Ia terdaftar sebagai mahasiswa di Harvard pada tahun 1973. Pada tahun pertamanya di Harvard, Ia belajar tentang bahasa pemrograman dan menciptakan BASIC.
Kemudian Gates memutuskan keluar dari Harvard untuk fokus mendirikan dan mengembangkan perusahaan bernama Microsoft bersama teman masa kecilnya, Paul Allen hingga perusahaannya memiliki aset US$ 226,2 miliar.
Aktivitas Gates tidak berhenti di Microsoft saja, kemudian Ia mendirikan Corbis yaitu salah satu suberdaya informasi visual terbesar di dunia. Selain itu, Ia juga memperoleh gaji dari posisi direktur di Berkshire Hathaway, yaitu sebuah perusahaan investasi yang masuk ke berbagai lini bisnis.
Saat ini Gates duduk sebagai komisaris Microsoft dan sebagai dewan pembina yang terhadap project yang dikembangkan Microsoft.

2.     Steve Jobs

Sebagai anak muda yang tak lulus kuliah, Steve Jobs telah menunjukkan minatnya terhadap komputer sejak kecil. Ketika usia 12 tahun, Jobs yang merupakan mantan CEO Apple ini menelpon salah satu pendiri Hewlett Packard, Bill Hewlett setelah berhasil menemukan nomernya pada sebuah buku telpon. Ketika Hewlett menjawab, Jobs mengatakan, ” Hallo nama saya Steve Jobs, Saya berusia 12 tahun dan saya pejalar pada sekolah menegah pertama. Saya ingin membuat penghitung frekuensi. Saya berharap anda memiliki peralatan yang saya butuhkan?”
Hewlett kemudian memberikan Jobs peralatan yang diperlukan dan mengangkat Jobs untuk bekerja pada masa liburan di perusahaanya. Pada waktu bekerja paruh waktu tersebut, Jobs memiliki sahabat bernama Stephen Wozniak, yang baru saja keluar dari Universitas California di Barkley.
Kemudian Jobs masuk di Reed College setelah lulus SMA, namun beberapa waktu kemudian Ia memutuskan untuk keluar. Suatu ketika ia kembali berhubungan dengan Wozniak dan Wozniak memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk memulai memproduksi komputer di garasi rumah Jobs.
Ada 3 versi yang mengatakan Jobs bersama rekannya memberi nama Apple. Cerita yang paling santer terdengar ketika Jobs menghabiskan masa liburannya di kebun apel dan ia menyukai buah tersebut. Gigitan pada sisi lambang Apple berarti Apple menjadi pemain dalam dunia komputer “byte.”
Pada buku biografinya, Jobs mengatakan kekayaannya pada saat usia 23 tahun lebih dari US$ 1 juta, lalu pada usia 24 tahun mencapai US$ 10 juta, dan usia 25 tahun mencapai US$ 100 juta. Apple merupakan perusahaan yang didirikan dari sebuah garasi rumah kemudian berubah menjadi perusahaan beraset US$ 362,4 miliar dan beroperasi di seluruh dunia, semua ini berkat dua anak muda yang keluar dari perguruan tinggi.

3.     Mark Zuckerberg
Meskipun Facebook didirikan bukan untuk tujuan bisnis, namun kita tidak bisa mengesampingkan orang sukses ini masuk ke dalam daftar CEO tak lulus bangku kuliah. Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook telah memiliki minat yang tinggi terhadap bidang komputer sejak masih muda. Waktu anak-anak, ia mampu menciptakan peralatan komunikasi dan games dari kamar tidurnya. Saat duduk di SMA, Ia mampu menciptakan program MP3 yang kemudian membuat ia memperoleh tawaran bekerja dari AOL dan Microsoft namun ia tolak.
Setelah diterima di Universitas Harvard, kemudian disana Zuckerberg berhasil membuat program bernama Facemash yaitu program yang bisa menampilkan gambar mahasiswa dan boleh mengijinkan rekannya untuk memilih foto teman-teman mereka yang paling atraktif.
Kemudian, bakat yang dimiliki Zuckerberg menyebar ke mana-mana dan rekannya di Harvard yaitu Cameron dan Tyler Winklevoss mengajak Zuckerberg untuk bekerja dan membuat sebuah situs jejaring sosial yang diberi nama Harvard Connection. Namun Zuckerberg memutuskan untuk keluar dan kemudian memulai mendirikan situs jejaring sosial lainnya yang bernama TheFacebook.com
Zuckerberg berhenti berkuliah di Harvard dan fokus mengembangkan Facebook hingga perusahaanya bernilai US$ 100 miliar.

4.    Paul Allen
Paul Allen merupakan salah satu pendiri Microsoft bersama dengan Bill gates hingga perusahaan tersebut memiliki aset US$ 226,2 miliar. Ia merupakan teman masa kecil Gates dan juga salah satu CEO yang tidak mengenyang bangku kuliah.
Berdasarkan pengakuan Allen dalam “Idea Man,” Allen terinspirasi menulis bahasa pemrograman ketika melihat “the Altair 8800 computer” pada sebuah cover majalah komputer terkenal. Allen mengenal Gates dan mereka berdua memiliki kemampuan untuk merancang bahasa program untuk Altair. Keduanya akhirnya berhasil mengantarkan kita memasuki sebuah era teknologi terbaru.
Saat ini, Allen memiliki surat berharga yang mencapai ratusan miliar dolar yang diantaranya ada saham perusahaan teknologi dan media serta perusahaan properti di Seattle. Allen juga memiliki tim sepakbola bernama Seattle Seahawks, tim basket bernama Portland Trail Blazers serta menjadi salah satu pemilik untuk klub sepak bola Seattle Sounders Football Club.
Allen juga telah menyumbangkan lebih dari US$ 1 miliar untuk kegiatan amal dan Ia berencana meninggalkan aktifitas bisnisnya untuk terjun ke dunia amal.
Bukan hanya Mark Zuckerberg dan Dustin Moskovtoz, Mahasiswa yang tak lulus kuliah dan menjadi pendiri perusahaan besar yangmasuk dan keluar tanpa menyandang gelar sarjana dari Universitas Harvard. Namun ada juga yang lain. Siapa dia?

5.    Alfred Taubman
Alfred Taubman merupakan pendiri dan mantan CEO Taubman Center yaitu sebuah perusahaan properti yang saat ini memiliki aset US$ 3,3 miliar. Taubman memulai karirnya pada usia 11 tahun di sebuah pusat perbelanjaan kemudian Ia bekerja sambil bersekolah hingga SMA.
Setelah lulus SMA, Taubman masuk ke Universitas Michigan namun kurang dari setahun, Ia dipanggil untuk mengikuti wajib Militer ketika perang dunia II terjadi. Setelah usai mengabdi di militer, Taubman kembali melanjutkan kuliahnya di Universitas Michigan untuk belajar arsitektur dan seni.
Seiring berjalannya waktu, kemudian Ia mengusulkan untuk pindah mengambil kuliah malam. Bukannya menyelesaikan kuliah dan menerima gelar sarjana, Taubman malah melihat peluang pada bisnis properti atau real estate.
Menurut bukunya yang berjudul “Treshold Resistance” Taubman melihat pertumbuhan yang tinggi dari kelas menengah di Amerika Serikat pasca perang dunia II, kemudian Ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan properti bernama Taubman Center.
Hingga berjalan 50 tahun, Taubman kemudian melanjutkan ekspansi usahanya menjadi perusahaan publik pada tahun 1992. Saat ini CEO dari Taubman Center adalah putra tertua Taubman yaitu Robert Taubman. Untungnya Robert berhasil lulus dari perguruan tinggi dan tidak mengikuti jejak ayahnya.
6.    Richard Schultz
Richard Schultz merupakan pendiri dan mantan CEO Best Buy yaitu perusahaan perlengkapan musik yang saat ini memiliki aset US$ 10,1 miliar. Schultz memulai karirnya sebagai pengantar koran pada usia 11 tahun dan menjalankan pekerjaanya hingga lulus SMA. Kemudian setelah lulus, Schultz berkeinginan melanjutkan kuliah di Universitas St. Thomas namun keinginan tersebut harus kandas karena Ia harus mengikuti program wajib militer.
Usai mengikuti program wajib militer, Ia membantu ayahnya menjual peralatan elektronik. Beberapa tahun kemudian, Ia mendirikan sebuah perusahaan bernama The Sound of Music yaitu perusahaan yang menjual perlengkapan audio, kaset dan instrumen musik.
Pada tahun 1980-an, Schultz menyadari perusahaannya yang kecil tidak akan cukup kuat untuk bisa bertahan menghadapi persaingan, kemudian Ia mengganti nama perusahaannya menjadi Best Buy dan memperbanyak jenik produk yang dijual. Ia merasa konsumennya akan merasa senang jika bisa menemukan semua produk yang dicari pada rak-rak yang ada di toko daripada menaruhnya pada gudang. Taknik tersebut ternyata berhasil menciptakan pengalaman baru untuk berbelanja.
Kemudian setelah usahanya berhasil, Ia melepas posisinya sebagai CEO namun tetap duduk sebagai seorang Komisaris. Schultz memang tidak sempat mengenyam bangku kuliah di Universitas St. Thomas namun Ia memperoleh penghargaan Doktor bidang hukum.
7.     Ralph Lauren
Ralph Lauren merupakan CEO Polo Ralph Lauren, Ia mendirikan usahaya pada tahun 1967 yang hanya melayani perlengkapan fashion untuk pria dan kemudian berkembang menjadi perusahaan fashion kelas dunia dan memiliki aset US$ 11,9 miliar. Keberhasilan mode fashion milik lauren karena produknya unik dengan mode style klasik yang berbeda dengan mode fashion umum pada setiap waktu.
Berdasarkan situs Ralp lauren, Luren berkata, “Saya tidak pernah mengenyam pendidikan fashion, saya hanya anak muda yang menyukai berbagai style. Saya tidak pernah membayangkan jika Polo akan menjadi pemain fashion terkemuka di dunia. Saya hanya mengikuti insting dalam menjalankan bisnis,”
Hanya berbekal ijazah SMA, Lauren mengikuti instingnya untuk menjalan bisnis fashion. Keputusannya tidak masuk bangku kuliah dan fokus menjalankan bisnis fashion membuat Polo menjadi salah satu pemain fashion terkemuka di dunia. Dari mendirikan sebuah butik fashion untuk pria di pusat perbelanjaan Bloomingdale di 1969, Lauren kemudian membangun kerajaan bisnisnya hingga berkembang yang melayani fashion untuk wanita dan anak-anak, parfum dan furnising untuk rumah tangga.
8.    Richard Branson
Richard Branson sama sekali tak menyentuh bangku kuliah, bahkan CEO Virgin Grup ini tidak lulus SMA namun bisa membuat Virgin Grup hingga memiliki aset US$ 18 miliar. Branson saat ini masih menduduki posisi CEO Virgin Grup, Ia keluar SMA pada usia 16 tahun kemudian membuat majalan pelajar. Empat tahun kemudian, Branson mendirikan Virgin Grup yang menjual perlengkapan surat menyurat. Usaha Branson tidak berhenti di situ, kemudian Ia membuka toko rekaman pertamanya di London dan dua tahun kemudian.
Ia mendirikan sebuah studio rekaman pertamanya. Pada tahun 1977, Branson berani mensponsori sebuah grup musik besar yaitu Sex Pistol dan dilanjutkan dengan mensponsori Rolling Stones dan Culture Club. Pada tahun 1984, Branson mengembangkan Virgin Atlancti dan kemudian merek usaha ini berkembang begitu pesat. Saat ini Virgin Grup memiliki beberbagai unit bisnis seperti layanan penyedia jasa telepon seluler, broadband, TV, radio, keuangan, kesehatan, wisata, dan perjalanan.
9.    Micky Arison
Mickey Arison bukannya memilih untuk masuk bangku kuliah, ia lebih memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan kapal pesiar Carnival hingga menduduki posisi tertinggi dan membuat aset Carnival mencapai US$ 19,6 miliar. Arison merupakan CEO Carnival, ia mengawali karirinya di divisi penjualan dan kemudian dipromosikan menjadi manajer reservasi pada Carnival di tahun 1974.
Karirnya terus naik, Ia kemudian ditunjuk menjadi Vice President lalu lintas penumpang dan tiga tahun kemudian Ia menjadi President lalu lintas penumpang di Carnival. Selain itu Arison juga berperan dalam membantu Carnival untuk mengakuisisi Holand America Line, Windstar Cruises, dan Westours sehingga membuat carnival menjadi salah satu pemain utama dalam industri kapal pesiar.
Pada tahun 1987, ia ditunjuk menjadi dewan komisaris dan kemudian pada tahun 2003, Ia berhasil menduduki posisi tertinggi di Carnival sebagai CEO. Arison berhasil menujukkan jika semua orang bisa menjadi sukses dari posisi paling bawah hingga menjadi CEO tanpa harus menyandang gelar sarjana.
10. Michael Dell
Sebagian besar remaja usia 19 tahun di Amerika Serikat menghabiskan ribuan dolar hanya untuk berlibur di musim semi atau membeli sebuah mobil baru namun Michael Dell hanya mengeluarkan US$ 1.000 untuk mendirikan perusahaan Dell.
Pendiri dan CEO Dell mengembangkan usahnya dengan berdasar pada sebuah ide “Teknologi merupakan bagaimana memanfaatkan kemampuan manusia.” Pada tahun 1992, Ia menjadi pria termuda yang masuk rangking majalah Fortune dalam daftar “Fortune 500.”
Karyawannya juga berkembang hanya dalam waktu 8 tahun, dari hanya satu keryawan menjadi 100.000 karyawan dan memiliki aset US$ 30 miliar. Saat ini Dell menyediakan layanan teknologi informasi untuk perusahaan global, pemerintahan, penyedia layanan kesehatan, UKM, lembaga pendidikan, dan organisasi kemanusian dunia.
Dell bukan hanya sekedar perusahaan bisnis semata. Dell pada tahun 1998 mendirikan MSD Capital dan setahun kemudian diubah menjadi Michael dan Susan Dell Foundation yaitu sebuah organisasi amal yang peduli terhadap isu-isu global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar